
Banda Aceh, 26 April 2026 — Memasuki hari kedua kunjungan di Banda Aceh, delegasi dari Universiti Teknologi PETRONAS (UTP) melaksanakan rangkaian wisata edukatif dan budaya yang memperkenalkan kekayaan sejarah serta kehidupan masyarakat Aceh. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari program pertukaran budaya yang diikuti bersama SMA Labschool Unsyiah.
Perjalanan dimulai dari hotel tempat para delegasi menginap menuju destinasi pertama, yaitu Museum Aceh. Sepanjang perjalanan, para tamu disuguhkan pemandangan Kota Banda Aceh yang tertata rapi dan berkembang pesat. Perwakilan siswa SMA Labschool Unsyiah turut mendampingi dengan memberikan penjelasan mengenai berbagai titik penting yang dilalui, seperti Jembatan Lamnyong, Simpang Mesra, Polda Aceh, Asrama Haji Banda Aceh, hingga Masjid Oman Al-Makmur.
Setibanya di Museum Aceh, para delegasi disambut oleh tim pemandu yang menjelaskan berbagai koleksi bersejarah. Materi yang disampaikan mencakup sejarah Kesultanan Aceh Darussalam, ragam pakaian adat, peninggalan masa perang, hingga informasi tentang keanekaragaman hayati di Aceh. Kegiatan ini memberikan wawasan mendalam mengenai identitas budaya dan sejarah panjang daerah tersebut.

Usai sesi edukasi, para delegasi bersama pendamping dari SMA Labschool Unsyiah dan mahasiswa FMIPA USK melakukan sesi foto bersama sebagai bentuk dokumentasi dan kenang-kenangan. Suasana hangat dan penuh keakraban terlihat jelas dalam interaksi antar peserta dari kedua negara.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju PLTD Apung, sebuah kapal pembangkit listrik yang terseret hingga ke daratan saat peristiwa Tsunami Aceh 2004. Lokasi ini menjadi simbol dahsyatnya bencana sekaligus pengingat akan kekuatan dan ketangguhan masyarakat Aceh dalam bangkit dari tragedi.

Destinasi berikutnya adalah Masjid Raya Baiturrahman yang merupakan ikon kebanggaan masyarakat Aceh. Para delegasi tampak terpesona oleh arsitektur megah masjid yang sarat nilai sejarah dan religius. Mereka juga memanfaatkan kesempatan ini untuk mengenal lebih jauh budaya islami yang kental di Banda Aceh serta mengabadikan momen di halaman masjid.
Setelah dari Masjid Raya Baiturrahman, rombongan delegasi melanjutkan perjalanan menuju Museum Tsunami Aceh. Setibanya di lokasi, para peserta diajak menyusuri berbagai ruang pamer yang dirancang untuk memberikan pengalaman mendalam tentang peristiwa Tsunami Aceh 2004. Melalui lorong gelap dengan suara gemuruh air serta instalasi visual yang imersif, para delegasi seakan dibawa kembali pada suasana mencekam saat bencana tersebut terjadi.

Tidak hanya menghadirkan pengalaman emosional, museum ini juga menyajikan informasi edukatif mengenai proses terjadinya tsunami, dampak yang ditimbulkan, serta upaya mitigasi bencana di masa kini. Para delegasi tampak antusias sekaligus terharu saat membaca nama-nama korban yang diabadikan dan menyaksikan dokumentasi perjuangan masyarakat Aceh dalam bangkit dari musibah. Kunjungan ini memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang pentingnya kesiapsiagaan serta nilai kemanusiaan di tengah bencana.
Setelah itu, rombongan menuju kawasan Peunayong untuk berbelanja berbagai souvenir khas Aceh. Di kawasan ini, para delegasi membeli aneka oleh-oleh seperti kain bordir Aceh, kopi khas Gayo, hingga kerajinan tangan tradisional. Aktivitas ini tidak hanya menjadi pengalaman berbelanja, tetapi juga sarana mengenal produk lokal dan mendukung pelaku usaha masyarakat setempat.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan hari kedua, delegasi mengunjungi Rumah Singgah Children Cancer Care Community (C-Four) Aceh, sebuah komunitas sosial yang memberikan pendampingan bagi anak-anak penderita kanker. Komunitas ini didirikan oleh Ibu Ratna Eliza yang juga merupakan staf di SMA Labschool Unsyiah. Kunjungan ini menjadi momen reflektif dan penuh empati, sekaligus memperlihatkan sisi kemanusiaan dalam rangkaian kegiatan. Seluruh aktivitas hari itu berlangsung lancar dengan pendampingan hangat dari guru, siswa SMA Labschool Unsyiah, serta mahasiswa FMIPA Universitas Syiah Kuala.
